Kesehatan

Ingin Sehat? Pola Hidup Seperti Ini Tak Bisa Ditawar

10-20 Tahun yang lalu, penyakit seperti diabetes, asam urat, stroke dan Alzheimer mungkin jarang sekali terdengar. Tetapi dewasa ini, kondisi-kondisi tersebut begitu lumrah ditemui hingga tak ada yang kaget lagi bila ada orang yang mengalaminya.

Prof Dr Mangestuti Agil, MS, Apt, dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga mencontohkan insidensi stroke yang semakin tinggi dari waktu ke waktu. Dulunya, banyak dari kita yang terkejut bila mendengar ada orang yang terkena serangan stroke.

“Atau diabet (diabetes, red). Orang bahkan makin pinter sekarang. Yang kena diabet gak berpikir gimana menghindari diabet, tapi cari obat supaya gulanya bisa turun tapi bisa tetep makan enak,” paparnya.

Hal yang sama juga berlaku untuk penyakit autoimun. Menurut Prof Manges, penyakit autoimun atau penyakit di mana ‘tentara’ atau sel-sel tubuh yang bertugas melindungi tubuh dari penyakit justru menyerang dirinya sendiri, dulunya tergolong langka.

Akan tetapi belakangan makin banyak kasus penyakit autoimun yang ditemukan dan jenisnya juga sangat beragam, hingga tim medis sendiri tak tahu bagaimana cara mengobatinya.

Meski demikian, penyakit-penyakit ini bukannya tidak bisa dicegah. Prof Manges mengatakan, kuncinya ada pada pola atau gaya hidup.

“Pola hidup itu apa? Jadi nutrisi, olahraga, istirahat,” tegasnya dalam Herbal Talks yang digelar di Perpustakaan Universitas Airlangga Surabaya, Selasa (21/2/2017).

Untuk nutrisi, Prof Manges mengambil contoh konsumsi sayuran. Sayuran telah lama terbukti mampu meningkatkan kesehatan karena kandungan vitamin, mineral dan seratnya. “Walaupun belum dipastikan, data juga menunjukkan kanker usus itu penyebabnya karena kurang serat,” imbuhnya.

Pentingnya nutrisi juga terlihat ketika seseorang baru pulih dari sakit misalkan. Yang bersangkutan belum tentu sembuh total, apalagi jika nutrisinya tidak terjaga.

“Trennya sekarang kan penyakit lama yang kemudian kambuh menjadi penyakit lain. Saya tidak menakut-nakuti tetapi ini kenyataannya,” tuturnya.

Guru Besar Ilmu Botani Farmasi Farmakognosi itu menambahkan, sedangkan untuk istirahat yang optimal adalah tidur selama 6-7 jam. “Ini nggak bisa ditawar dan nggak bisa misal kurang tidur lalu nanti Sabtu tak bayar, nggak bisa,” lanjutnya.

Yang tak kalah penting adalah mengelola stres. Prof Manges menyadari bahwa tak ada yang bisa menghindari stres, akan tetapi itu bukan berarti stres tidak bisa dikendalikan atau dikelola.

Ini Alasan Perut Keroncongan dan Bunyi ‘Grok-grok’ Saat Lapar

Saat sedang lapar, seringkali terdengar bunyi ‘grok-grok’ di perut. Dikenal dengan istilah perut keroncongan, apa yang sebenarnya waktu itu sedang terjadi di usus dan organ pencernaan lainnya?

Dikatakan oleh nutrisionis Leona Victoria Djajadi, MND, perut yang terdengar berbunyi terjadi karena ada pergerakan usus dan angin yang ada di dalam tubuh. Saat usus bekerja, gerakannya seperti ‘meremas’, sehingga makanan, air dan angin dapat maju terdorong.

“Nah, jika kamu lapar maka banyak angin di dalam usus kamu. Karena tidak mungkin usus kamu kosong dan kempes yang membuat bunyi-bunyi,” tutur Victoria kepada detikHealth.

Dikutip dari Times of India, perut yang berbunyi merupakan pertanda lapar dan kadar gula darah sedang menurun. Ini salah satu tanda bahwa saat itu kita perlu makan untuk membantu usus mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan dari darah. Segera setelah cukup makan, umumnya suara dari perut perlahan-lahan akan menghilang. Saat itu usus juga akan lebih fokus menyerap makanan dan tak lagi menggerak-gerakan angin pemicu suara.

Bagaimana angin bisa masuk ke dalam sistem pencernaan? Victoria menjelaskan bahwa hal ini sangat mungkin terjadi ketika Anda belum makan, atau karena makan sambil berbicara. Saat itu, angin terbawa masuk saat proses pengunyahan.

Namun ingat ya, perut berbunyi tak cuma menjadi pertanda Anda sedang lapar dan butuh asupan makanan. Hal ini juga umum terjadi justru ketika Anda sudah makan. Kok bisa? Dikutip dari How Stuff Works, perut yang berbunyi ini memang bisa terjadi sewaktu-waktu tidak hanya sebatas saat seseorang merasa lapar saja.

Alasannya berkaitan dengan rasa kelaparan dan juga nafsu makan. Setelah dua jam perut kosong, maka perut mulai memproduksi lagi hormon yang dapat menstimulasi saraf lokal untuk mengirim pesan ke otak. Selanjutnya otak akan membalas dengan memberi sinyal pada otot pencernaan untuk memulai kembali gerakan peristaltik.

Gerakan peristaltik ini yang pertama untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang tidak ikut tercerna, selanjutnya gerakan ini akan membuat seseorang merasa lapar kembali. Kontraksi otot ini akan terjadi setiap jam dan berlangsung 10-20 menit hingga perut terisi oleh makanan.

“Yang pasti perut berbunyi itu bukan karena cacingan seperti yang sering dikira, tapi karena pergerakan usus dan angin di tubuh. Gejala cacingan itu makan banyak tapi tubuh tidak gemuk-gemuk, anemia, terdapat telur cacing atau cacing yang keluar saat buang air besar,” ujar Victoria.

Top